3 Model Pembelajaran dalam Membentuk Perilaku Saintifik

9 Views10 Views
Read Time:3 Minute, 55 Second

Implementasi Kurikulum 2013 menurut Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses menggunakan 3 (tiga) model pembelajaran yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, sosial serta mengembangkan rasa keingintahuan.

Ketiga model Pembelajaran dalam Membentuk Perilaku Saintifik tersebut adalah: 

(1) model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry Learning),
(2) model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning/PBL),
(3) model Pembelajaran Berbasis Projek (Project- based Learning/PJBL).

Selain 3 model yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016, guru juga diperbolehkan
mengembangkan pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran yang lain, seperti Cooperative Learning yang mempunyai berbagai metode seperti: Jigsaw, Numbered Head Together (NHT), Make a Match, Think-Pair-Share (TPS), Example not Example, Picture and Picture, dan lainnya.
Dalam kesempatan ini trendkan akan mengulas 3 model pembelajaran yakni Discovery/inquiry Learning, Problem Based Learning dan Project Based Learning.

1. Model Discovery/Inquiry Learning

Model pembelajaran penyingkapan/penemuan (Discovery/inquiry Learning) adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.
Discovery terjadi bila individu terlibat terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.

Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferensi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating concepts and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).

Langkah kerja (sintak) model pembelajaran penyingkapan/penemuan adalah sebagai berikut:

a. Sintak model Discovery Learning

  1. Pemberian rangsangan (Stimulation);
  2. Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement);
  3. Pengumpulan data (Data Collection);
  4. Pengolahan data (Data Processing);
  5. Pembuktian (Verification), dan
  6. Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).
BACA JUGA  Cara Termudah Pasang Tombol Go To Up pada Blogger

b. Sintak model Inquiry Learning Terbimbing 

Model pembelajaran yang dirancang membawa peserta didik dalam proses penelitian melalui penyelidikan dan penjelasan dalam setting waktu yang singkat (Joice&Wells, 2003). 

Model pembelajaran Inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri temuannya.
Sintak/tahap model inkuiri meliputi:

  1. Orientasi masalah; 
  2. Pengumpulan data dan verifikasi; 
  3. Pengumpulan data melalui eksperimen; 
  4. Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi, dan 
  5. Analisis proses inkuiri. 

2. Model Pembelajaran Problem-based Learning (PBL) 

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual (Tan Onn Seng, 2000).

Tujuan PBL adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsepkonsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep Higher Order Thinking Skills (HOT’s), keinginan dalam belajar, mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan (Norman and Schmidt). Karakteristik yang tercakup dalam PBL menurut Tan (dalam Amir, 2009) antara lain:

  1. Masalah digunakan sebagai awal pembelajaran;
  2. biasanya masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang disajikan secara mengambang (ill-structured); 
  3. masalah biasanya menuntut perspektif majemuk (multiple-perspective); 
  4. masalah membuat pembelajar tertantang untuk mendapatkan pembelajaran di ranah pembelajaran yang baru; 
  5. sangat mengutamakan belajar mandiri;
  6. memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak dari satu sumber saja, dan
  7. pembelajarannya kolaboratif, komunikatif dan kooperatif. Karakteristik ini menuntut peserta didik untuk dapat menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, terutama kemampuan pemecahan masalah. 

Pada PBL guru berperan sebagai guide on the side daripada sage on the stage. Hal ini menegaskan pentingnya bantuan belajar pada tahap awal pembelajaran. Peserta didik mengidentifikasi apa yang mereka ketahui maupun yang belum berdasarkan informasi dari buku teks atau sumber informasi lainnya.
Sintak model Problem-based Learning menurut Arends (2012) sebagai berikut:

  1. Orientasi peserta didik pada masalah 
  2. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar 
  3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok 
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya 
  5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah 
BACA JUGA  Mengenal Border / Pembatasan dalam CSS

3. Model Pembelajaran Project-Based Learning

Model Project-based Learning adalah model pembelajaran yang melibatkan keaktifan peserta didik dalam memecahkan masalah, dilakukan secara berkelompok/mandiri melalui tahapan ilmiah dengan batasan waktu tertentu yang dituangkan dalam sebuah produk untuk selanjutnya dipresentasikan kepada orang lain.
Karakteristik PjBL antara lain:

  1. Penyelesaian tugas dilakukan secara mandiri dimulai dari tahap perencanaan, penyusunan, hingga pemaparan produk
  2. Peserta didik bertanggung jawab penuh terhadap proyek yang akan dihasilkan
  3. Proyek melibatkan peran teman sebaya, guru, orang tua, bahkan masyarakat
  4. Melatih kemampuan berpikir kreatif
  5. Situasi kelas sangat toleran dengan kekurangan dan perkembangan gagasan

Untuk Penerapannya project-based learning lebih tepat jika diterapkan pada materi sebagai berikut:

  • Topik/ materi yang dipelajari peserta didik merupakan topik yang bersifat kontekstual dan mudah didesain menjadi sebuah proyek/ karya yang menarik
  • Peserta didik tidak digiring untuk menghasilkan satu proyek saja, (satu peserta didik menghasilkan satu proyek)
  • Proyek tidak harus selesai dalam 1 pertemuan (diselesaikan 3-4 pertemuan)
  • Proyek merupakan bentuk pemecahan masalah sehingga dari pembuatan proyek bermuara pada peningkatan hasil belajar
  • Bahan, alat, dan media yang dibutuhkan untuk membuat proyek diusahakan tersedia di lingkungan sekitar dan diarahkan memanfaatkan bahan bekas/ sampah yang tidak terpakai agar menjadi bernilai guna
  • Penilaian autentik menekankan kemampuan merancang, menerapkan, menemukan dan menyampaikan produknya kepada orang lain
ArRahim
Berbagi itu bukan tentang seberapa besar dan seberapa berharganya apa yang kau beri, namun seberapa tulus dan ikhlasnya apa yang ingin kau beri.
administrator
Happy
Happy
Sad
Sad
Excited
Excited
Sleppy
Sleppy
Angry
Angry
Surprise
Surprise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *